Senin, 21 Juni 2010

Beda Mazhab di Satu Kamar

Beda Mazhab di Satu KamarKehadiran para pengamat ekonomi dalam Komite Ekonomi Nasional (KEN) menambah lengkap daftar pemikir yang bakal membantu presiden merumuskan kebijakan. Sejumlah nama pengamat ekonomi mengisi posisi dalam lembaga yang pekan lalu dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Para pengamat yang hadir dalam KEN juga beragam. Selain berasal dari sejumlah lembaga think tank, mereka juga datang dari kalangan kampus. Aviliani yang ditunjuk sebagai Sekretaris KEN merupakan pengamat ekonomi yang tergabung dalam Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (Indef). Selain itu, ada ekonom dari lembaga think tank seperti Centre for Information and Development Studies (CIDES) yaitu Umar Juoro. Menurut informasi yang diterima Banaspati bahwa ada juga Djisman S Simanjuntak dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), serta yang lainnya seperti Purbaya Yudhi Sadewa dari Danareksa Research Institute.

Ada juga Chatib Basri sebagi Wakil Ketua KEN yang selama ini dikenal dekat dengan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani.Sedangkan dari kalangan akademisi ada Badia Perizade yang merupakan Rektor Universitas Sriwijaya, Pelembang. Sebelumnya dia menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi di universitas yang sama. Selain itu ada Hermanto Siregar dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Peneliti tetap pada Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian IPB ini sebelumnya disebutsebut menjadi kandidat menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Nama lain dari kalangan akademisi adalah Ninasapti Triaswati yang berasal dari Universitas Indonesia.

Menurut Aviliani,berbagai macam latar belakang anggota KEN adalah berkah tersendiri bagi lembaga ini. Sebab, semua persoalan yang dihadapi memerlukan pemikiran semua pihak, baik dari kalangan pengusaha, pengamat, akademisi, dan praktisi. Khusus untuk pengamat, berbagai lembaga yang menjadi latar belakang mereka memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa mereka tidak hanya terkelompokkan pada satu corak pemikiran. Dengan hal ini masyarakat tidak lagi bisa mengatakan bahwa lembaga yang dibentuk ini hanya berlandaskan pada mazhab-mazhab tertentu. Walaupun klasifikasi mazhab tersebut lebih banyak terdengar di kalangan masyarakat sendiri.

Masyarakat nantinya tidak bisa mengatakan bahwa KEN bermazhab pasar karena ada Chatib yang mungkin mereka kenal berorientasi pada pasar. Sebab, di KEN juga ada sejumlah ekonom dari lembaga lain seperti Cides dan Indef yang dikenal kerakyatan. Ini juga bisa dikatakan sebagai jalan tengah juga, kata Aviliani kepada salah satu sumber media massa. Aviliani menambahkan, keberadaan para pengamat dalam KEN menjadi pengolah data yang didapat dari para pengusaha yang mungkin lebih mengetahui kondisi di lapangan. Lembaga ini bisa menjadi lembaga think tank yang diharapkan bisa memberikan masukan yang komprehensif dan aplikatif bagi kementerian yang ada dalam pemerintahan.

Misalnya nanti untuk bidang pertanian, KEN bisa menghasilkan solusi yang bisa dilakukan Kementerian Pertanian, tambah Aviliani. Kehadiran KEN menurut Aviliani sangat strategis. Lembaga ini bisa mengurai sejumlah masalah lebih integral jika dibandingkan harus diselesaikan masing-masing kementerian yang ada dalam pemerintahan. Delapan permasalahan yang telah ditetapkan presiden memang harus diselesaikan dengan kolaborasi berbagai pemikiran yang datang dari semua anggota KEN. Dalam pelaksanaan tugasnya, KEN menurutnya telah membentuk kelompok kerja (pokja) yang berjumlah delapan sesuai dengan permasalahan yang dibebankan kepada KEN.

Setelah itu akan dibentuk kerangka kerja (frame work) masing-masing pokja. Namun, Aviliani belum merinci komposisi pokja yang saat ini sedang digodok dalam KEN. Pokja masih akan dirapatkan besok (hari ini), keterangan lebih lanjutnya tentang hal ini mungkin nanti setelah rapat-rapat itu dilaksanakan, kata Aviliani. Sementara pengamat pertanian HS Dillon yang juga masuk sebagai anggota KEN menyambut baik sejumlah keberagaman yang ada dalam tubuh lembaga yang baru ini. Sebagai orang yang pernah masuk dalam Dewan Ekonomi Nasional, dia akan tetap menyuarakan sejumlah pemikiran yang selama ini sudah banyak diketahui masyarakat. Dia mengakui, mungkin ada sejumlah perbedaan antara pandangannya dengan para pengamat lain tentang perekonomian.

Bahkan, perbedaan itu bisa terjadi antara dirinya dengan kepala pemerintahan. Semua perbedaan itu bagus. Walaupun belum tentu bisa menjadi sebuah hal yang positif, namun perbedaan telah menunjukkan sebuah kebhinekaan, kata Dillon. Dalam KEN, Dillon mengaku ditunjuk untuk memikirkan masalah kelaparan dan kemiskinan. Masalah pangan memang menjadi perhatian terbesar Dillon selama ini sehingga dengan penunjukan dirinya sebagai salah satu anggota KEN, dia bisa menyampaikan berbagai masukan yang memang sudah menjadi bidangnya. Kini saatnya masyarakat menunggu bagaimana KEN yang dihasilkan dari latar belakang yang warna-warni bisa memberikan solusi yang menyeluruh tentang masalah perekonomian.

Menurut Berita Terkini walaupun pada akhirnya keputusan ada di tangan presiden sebagai kepala pemerintahan, dengan hadirnya sumbangan para pengamat dan akademisi yang ahli di bidangnya bisa menghasilkan perdebatan dari berbagai perspektif. Sehingga, rekomendasi yang disampaikannya pun diharapkan bisa menyelesaikan masalah tanpa muncul masalah lain.

0 komentar:

 
 
Copyright © 2011 Banaspati All Rights Reserved Nggo Kontes
Tablet Android Honeycomb Terbaik Murah TOP 1 Oli sintetik mobil-motor Indonesia