Kamis, 03 Juni 2010

Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarno Putri

Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarno PutriPeringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni yang diselenggarakan MPR kembali menjadi momentum bersejarah menurut Berita Utama karena bisa mempertemukan dua tokoh yang selama ini berseteru dalam peta politik nasional, antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Presiden RI Megawati Soekarno putri.

Meski acara tersebut juga dihadiri tiga mantan Wakil Presiden yakni Try Sutrisno, Hamzah Haz, dan Jusuf Kalla, kehadiran Megawati tetap dianggap sebagai momentum penting karena pasca-Pilpres 2009 lalu kedua tokoh tersebut tidak pernah bertemu. Peran dan keberhasilan Ketua MPR Taufik Kiemas mempertemukan kedua tokoh nasional tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Bagaimana Anda bisa meyakinkan Presiden SBY dan Megawati untuk menghadiri peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni di Gedung MPR/DPR?

Sebenarnya tidak ada yang mengejutkan karena acara itu memang acara kenegaraan di mana MPR sebagai fasilitator mengundang tokoh yang pernah menjadi presiden,wakil presiden, dan juga presiden saat ini. Berarti memang, mereka melihat Pancasila itu penting sebagai ideologi negara. Apakah Anda yang membujuk Megawati agar datang?

Tidak ada yang membujuk. Saya malah tidak berani sama Ibu Megawati kalau masalah seperti ini. Ibu Megawati kan orang Jawa yang pernah jadi presiden, kalau masalah prinsip seperti ini tidak ada yang berani membujuknya. Jadi, yang kemarin (peringatan kelahiran Pancasila 1 Juni) itu adalah kesadaran betapa pentingnya Pancasila. Ibu Megawati hadir karena undangan MPR, begitu juga Presiden SBY dan para tiga wapres terdahulu. Apakah Anda dan SBY sudah mengetahui bahwa Megawati akan menghadiri undangan tersebut?

Secara pasti saya tidak tahu kalau akan hadir tetapi memang Puan Maharani memberitahukan secara lisan bahwa akan hadir. Pak SBY juga tidak mengetahui bahwa Ibu Megawati akan hadir. Karena itu, saat disebut nama Megawati pak SBY berbisik ke saya soal kehadiran Ibu Megawati. Tetapi, banyak pihak yang melihat pertemuan SBY-Mega dalam acara tersebut sebagai kemajuan dalam komunikasi politik antara kedua tokoh yang bertarung di Pilpres 2004 dan 2009 itu. Menurut Anda?

Ibu Megawati sudah pernah menjadi presiden dan juga pernah menjadi wakil presiden. Tentunya baik Presiden SBY maupun Ibu Megawati, punya instinctive bagaimana melihat acara peringatan Hari Pancasila. Kalau acara tersebut dianggap tidak penting untuk negara, pasti Presiden SBY juga tidak akan datang. Begitu juga dengan Ibu Megawati. Meski sudah tahu bahwa acara akan dihadiri oleh SBY, Ibu Megawati tetap datang. Di sini Banaspati melihat Ibu Megawati pasti punya pemikiran bahwa Presiden SBY juga menganggap penting soal Pancasila. Kalau sudah sama dalam melihat ideologi, tentu komunikasi ini akan semakin bagus ke depan. Bagaimana yang Anda lihat kesan dari Presiden SBY maupun Megawati soal pertemuan di acara tersebut?

Yang saya lihat, baik Presiden SBY maupun Ibu Megawati samasama senang dengan acara itu.Saya melihat bagaimana Pak SBY menyampaikan pidatonya dengan sangat bagus soal Pancasila dan ajaran-ajaran Bung Karno. Tidak mungkin pidatonya bisa disampaikan sebagus itu jika Presiden SBY tidak menghayati dan memahami betul soal ideologi Pancasila.Nah, Ibu Megawati juga saya melihatnya cukup senang dengan apa yang dipidatokan oleh Presiden SBY. Artinya bahwa Presiden SBY juga sama, yaitu mau mengimplementasikan Pancasila sebagai falsafah bangsa dan membangun bangsa yang berdikari. Mungkin selama ini hanya cara pandangnya saja yang berbeda. Dengan begitu, apakah berarti ke depannya komunikasi antara SBY-Megawati akan semakin mencair?

Itu mengalir saja.Yang pasti, momentum kemarin itu menjadi momentum yang bagus untuk generasi muda ke depannya bahwa perbedaan sikap politik itu tetap bisa dipertemukan jika sudah ada pemahaman yang sama soal ideologi. Kalau sudah bicara masalah ideologi, tentu tidak bisa dipisahkan, baik itu SBY sebagai Presiden yang juga Ketua Dewan Pembina partai Demokrat dan Megawati sebagai Presiden ke-5 dan juga sebagai Ketua Umum PDIP. Karena sudah punya pandangan sama soal ideologi Pancasila. Apakah ke depan akan diikuti komunikasi antara PDIP dengan Partai Demokrat?

Sekali lagi saya katakan itu mengalir saja.Karena antara kedua partai yang saya kira punya pandangan sama soal ideologi dan menjadi partai tengah, PDIP dan Partai Demokrat ke depannya tetap akan bisa menjalin komunikasi. Apalagi sekarang sama-sama dimotori oleh yang muda-muda. Di PDIP ada Puan,di Partai Demokrat ada Anas Urbaningrum. Mereka kan sangat bagus komunikasinya. Jadi, saya kira tidak akan ada masalah untuk komunikasi antara dua partai tersebut ke depannya. Masih ada keinginan PDIP masuk dalam koalisi di pemerintahan?

Di sistem konstitusi kita sebenarnya tidak ada koalisi atau oposisi. Yang ada bahwa sistem pemerintahan kita adalah presidensial. Lalu apakah PDIP bisa bersama-sama dengan pemerintah? Saya kira yang mempertemukan kita adalah ideologi, menurut Banaspati. Pancasila mengajarkan gotong-royong. Nah, kalau menyimak pidato Pak SBY, berarti kan ideologi kita sama. Jadi, sebenarnya kita memang harus gotong-royong membangun bangsa ini sesuai nilainilai Pancasila.

1 komentar:

supono mengatakan...

nyuwun sewu pak kepala negara samasama dari jawa timur nih bumega orang terkuat jadi kepala negara pak Susilo Bambang Yudoyono bapak jadi kepala negara udah dua pereode namun akhir-akhir ini pemerintah banyak korupsi.mampukah bapak bisa menugaskan aparat untuk memberantasnya citra masyarakat yang kurang baik. kuminta pak SBY bisa jaga citra yang baik sebagai kehormatan dalam peribahasa Gajah mati meninggalkan Gading macan mati meninggalkan belang manusia mati meninggalka nama.

 
 
Copyright © 2011 Banaspati All Rights Reserved Nggo Kontes
Tablet Android Honeycomb Terbaik Murah TOP 1 Oli sintetik mobil-motor Indonesia