
Pembawaan Naoto Kan yang tegas, jujur, apa adanya, dan tidak segan berdebat diharapkan bisa membawa Jepang ke arah yang lebih baik setelah negara itu berkubang dalam krisis keuangan serta sejumlah masalah lain. IRA-KAN (singkatan dari Irritable Kan) atau Kan yang lekas naik darah serta Fretful-Kan atau Kan yang suka bertingkah, begitulah julukan Perdana Menteri (PM) baru Jepang Naoto Kan. Julukan itu tentu saja tidak muncul dengan sendirinya, menurut pengamatan
Berita Terkini. Julukan-julukan tersebut melekat pada diri Kan karena pembawaannya yang lekas naik darah, gemar beradu mulut, serta kerap mencari kepopuleran.
Selama 30 tahun perjalanan karier politiknya, pria berusia 63 tahun ini memang dekat dengan kontroversi. Salah satu kontroversi terbesar yang pernah dilakukan Kan terjadi pada 1996 saat dirinya menjabat sebagai menteri kesehatan. Saat itu, dia membongkar skandal darah tercemar HIV yang melibatkan kementeriannya serta menyeret berbagai institusi lain.
Pada 2004, Kan juga pernah membuat warga Jepang bertanyatanya dengan pengakuandosanya di depan publik. Setelah mengaku bersalah karena gagal membayar gaji pensiunan negara selama 10 bulan, dia memutuskan mundur dari partainya, Partai Demokrat (DPJ).Bukan hanya itu, Kan mencukur gundul rambutnya,mengenakan jubah ala biksu,dan melakukan ziarah ke 88 kuil di Jepang dengan berjalan kaki selama 11 hari.
Lebih dari sebelumnya, Jepang kini memimpikan seorang pemimpin yang bisa memberi jaminan dan rasa kepercayaan diri. Kan memiliki ketegasan dan dia adalah seorang pemimpin yang bisa menentukan sesuatu. Dia akan membuat Jepang dan DPJ lebih baik, tutur Daniel C Sneider, peneliti Asia Timur Stanford University.
Tidak seperti PM-PM Jepang sebelumnya yang cenderung kalem, Kan memang dikenal sangat tegas, jujur, transparan, dan apa adanya.Kehadiran Kan dalam percaturan politik Jepang juga menghadirkan napas segar bagi Negeri Matahari Terbit itu. Pria kelahiran 10 Oktober 1946 ini adalah sebuah anomali bagi sejarah Jepang yang kerap memiliki PM dengan latar belakang keluarga politik seperti Fukuda, Abe, Koizumi, Tanaka, ataupun Sato.
Fakta ini akan menguntungkan Kan karena dia menampilkan citra sebagai politikus akar rumput dan dekat dengan rakyat. Akan ada dukungan besar dari warga Jepang kepada Kan karena mereka merasa dekat dengannya, papar Jeff Kingston, Direktur Studi Asia dari Temple University,Tokyo. Kan mungkin mendapat dukungan besar saat ini.Namun, bukan berarti tugasnya sebagai PM akan menjadi mudah karena dia mewarisi sejumlah beban berat dari PM sebelumnya Yukio Hatoyama.
Selain diminta memperbaiki perekonomian Jepang yang belum pulih sepenuhnya dari krisis, Kan juga mesti menanggung utang Hatoyama kepada rakyat Jepang untuk membereskan persoalan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa. Saat berkampanye, Hatoyama yang kerap dijuluki Alienolehmedia Jepang menjanjikan agar pangkalan AS dipindahkan.
Namun, hingga delapan bulan lebih pemerintahannya, pemindahan pangkalan itu tak kunjung beres hingga memaksa Hatoyama mundur pada 2 Juni lalu. Tugas berat lain yang harus diemban Kan adalah mengembalikan kepercayaan warga Jepang terhadap Partai Demokrat serta pemerintahan mereka. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana mengambil lagi dukungan dari rakyat, demikian kata Kan setelah dirinya terpilih sebagai Ketua Partai Demokrat,4 Juni lalu.
Satu hal yang menarik ditunggu dari Kan adalah bagaimana mantan menteri keuangan itu membangun politik luar negerinya. Terlebih, Kan selama ini asing dengan politik luar negeri karena memfokuskan diri ke urusan dalam negeri seperti kesejahteraan rakyat, keuangan, dan kesehatan. Di bawah politik luar negeri Hatoyama, Jepang tampak mengubah sikapnya untuk tidak terlalu dekat lagi dengan Amerika Serikat.
Jepang mengalihkan perhatian ke Asia Pasifik dengan mendekati negara-negara kawasan tersebut yang sedang muncul sebagai pemain penting dalam perekonomian dunia seperti China, India, Indonesia. Lahir di Kota Ube,Yamaguchi, Kan bukan datang dari keluarga politikus. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di kota tersebut. Saat kecilhingga muda,Kanlebihtertarik pada ilmu pasti seperti fisika dan matematika karena itulah dia mendaftarkan diri di jurusan fisika di Tokyo Institute of Technology.
Setelah lulus, Kan baru menunjukkanminatyangbesarpadapolitik. Namun jalan yang dia tempuh untuk menjadi politikus andalsangat berliku- liku. Dia baru bisa duduk di kursi Majelis Rendah pada 1980 atau setelah gagal tiga kali dalam pemilihan umum. Namanya mencuri perhatian saat ditunjuk sebagai menteri kesehatan dan membeberkan kasus darah tercemar pada 1996.
Kan kembali menjadi pemberitaan saat dirinya digosipkan menjalin hubungan dengan seorang pembawa berita televisi. Namun Kan bisa menunjukkan kewibawaannya kembali saat Partai Demokrat Jepang (DPJ) bersaing ketat dengan Partai Demokrat Liberal pimpinan Junichiro Koizumi dalam Pemilu 2003. DPJ memang kalah, tapi nama Kan menjadi lambang partai tersebut dan dia disebut-sebut layak sebagai PM Jepang berikutnya.
Saat DPJ meraih kemenangan bersejarah dalam pemilu Agustus 2009 lalu, Kan ditunjuk sebagai wakil perdana menteri dan Januari lalu dia merangkap jabatan sebagai menteri keuangan, menurut informasi yang diterima
Banaspati. Setelah Hatoyama mundur, Kan pun sepertinya tidak bisa menghindari takdirnya sebagai PM Jepang ke-94.